Mahasiswa KKN UNIDA Gontor Edukasi Pencegahan Hipertensi bagi Lansia di Dusun Setono -->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Mahasiswa KKN UNIDA Gontor Edukasi Pencegahan Hipertensi bagi Lansia di Dusun Setono

Senin, 02 Maret 2026 | Maret 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-02T01:50:13Z

 

Foto: Edukasi pencegahan Hipertensi bagi Lasia di Dusun Setono.

Ngawi, Ngawimadang.com - Kelompok 23 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menggelar penyuluhan edukasi manajemen dan pencegahan hipertensi bagi lansia di Dusun Setono, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Rabu (12/2/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 20 warga lanjut usia dan berlangsung dalam suasana hangat serta interaktif.


Sejak pagi, para lansia mulai berdatangan ke lokasi kegiatan. Sebagian hadir bersama keluarga, sementara lainnya didampingi kader Posyandu. Antusiasme terlihat saat peserta langsung mengisi daftar hadir dan berbincang santai menunggu acara dimulai.


Ketua Kelompok 23 KKN UNIDA Gontor dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini disusun berdasarkan kebutuhan warga. “Selama observasi, kami menemukan masih ada lansia yang memeriksakan tekanan darah hanya ketika merasa pusing. Padahal hipertensi sering tidak menunjukkan gejala di awal,” ujarnya.


Ia menambahkan, edukasi ini difokuskan pada langkah-langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan. “Kami ingin menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan istilah medis yang rumit. Harapannya, setelah kegiatan ini, bapak dan ibu bisa lebih sadar pentingnya menjaga tekanan darah,” katanya.


Dalam pemaparan materi, mahasiswa menjelaskan bahwa hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di angka 140/90 mmHg atau lebih. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.


Salah satu pemateri menjelaskan bahwa hipertensi kerap disebut sebagai *silent killer*. “Banyak orang merasa sehat-sehat saja, tapi ternyata tekanan darahnya tinggi. Karena itu, pemeriksaan rutin sangat penting, meskipun tidak ada keluhan,” jelasnya di hadapan peserta.


Para lansia tampak menyimak dengan serius, terutama saat dijelaskan tentang arti angka sistolik dan diastolik yang biasa tertera pada hasil pemeriksaan. Beberapa peserta mengangguk ketika materi dikaitkan dengan pengalaman pribadi mereka.


Sesi diskusi menjadi bagian yang paling hidup. Seorang peserta lansia mengangkat tangan dan bertanya mengenai kebiasaan minum kopi. “Kalau saya tiap pagi minum kopi, itu boleh tidak untuk yang punya darah tinggi?” tanyanya.


Menanggapi hal tersebut, pemateri menjawab bahwa konsumsi kopi masih diperbolehkan dalam jumlah terbatas, tergantung kondisi masing-masing. “Yang penting tidak berlebihan dan tetap rutin memeriksakan tekanan darah. Kalau setelah minum kopi tekanan darah meningkat, sebaiknya dikurangi,” jawabnya.


Peserta lain juga mengaku selama ini hanya meminum obat saat merasa tidak enak badan. “Kalau sudah enakan, biasanya saya berhenti minum obat. Saya kira sudah sembuh,” ungkapnya jujur.


Menanggapi hal itu, mahasiswa mengingatkan pentingnya konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menghentikan obat. “Obat hipertensi umumnya diminum jangka panjang. Menghentikan secara tiba-tiba bisa membuat tekanan darah naik lagi tanpa disadari,” tegas salah satu anggota tim KKN.


Selain membahas pengobatan, penyuluhan juga menekankan perubahan gaya hidup. Mahasiswa mengajak lansia untuk mengurangi konsumsi garam, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi makanan tinggi lemak. Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki pagi, senam lansia, atau berkebun juga dianjurkan.


Kader Posyandu Dusun Setono yang turut mendampingi kegiatan menyambut baik program tersebut. “Kegiatan seperti ini sangat membantu kami. Kadang kalau hanya kader yang mengingatkan, warga kurang memperhatikan. Dengan adanya mahasiswa, penjelasannya jadi lebih lengkap,” ujarnya.


Ia berharap edukasi semacam ini dapat terus berlanjut. “Harapannya bapak ibu lansia bisa lebih rutin datang ke Posyandu untuk cek tekanan darah. Jangan menunggu sakit dulu,” tambahnya.


Di akhir kegiatan, beberapa peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru. Salah satu lansia mengatakan bahwa dirinya baru mengetahui hipertensi bisa terjadi tanpa gejala. “Selama ini saya pikir kalau tidak pusing berarti aman. Ternyata tetap harus dicek rutin,” katanya.


Kegiatan ditutup dengan ajakan bersama untuk menjaga pola hidup sehat dan saling mengingatkan antarwarga. Mahasiswa KKN UNIDA Gontor berharap penyuluhan ini menjadi langkah awal peningkatan kesadaran kesehatan lansia di Dusun Setono.


“Semoga setelah ini, bukan hanya tahu tentang hipertensi, tetapi juga mau menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian,” tutup ketua kelompok KKN sebelum acara berakhir.

 


Penulis: Nida Kamilia (Mahasiswi Prodi Informatika UNIDA Gontor)


Sekarang jadi Makin Tahu Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update