Teguran Guru dalam Perspektif Pendidikan Masa Kini -->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Teguran Guru dalam Perspektif Pendidikan Masa Kini

Rabu, 14 Januari 2026 | Januari 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-14T11:25:58Z

Foto: Ilustrasi 

Ngawimadang.com - Belakangan ini, dunia pendidikan dihadapkan pada situasi yang cukup memperhatinkan. Berbagai pemberitaan mengenai guru yang dilaporkan akibat upaya mendisiplinkan anak didik menunjukkan adanya persoalan yang perlu disikapi secara bijak. Pada saat yang sama, perilaku anak didik yang kurang mencerminkan sikap hormat terhadap guru juga semakin sering terlihat dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Guru yang seharusnya dihormati sebagai pendidik justru kerap berada pada posisi yang serba salah. Ketika menegur siswa, guru berisiko disalahkan, bahkan dilaporkan oleh wali murid. Di sisi lain, jika tidak menegur, guru dianggap lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik.


Jika dibandingkan dengan pendidikan di masa lalu, tampak adanya pergeseran sikap yang cukup signifikan. Pada masa sebelumnya, wali murid umumnya memberikan kepercayaan yang besar kepada guru dalam mendidik anak di sekolah. Teguran dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran, bahkan sering kali didukung sebagai bentuk kepedulian guru terhadap perkembangan anak. Sementara itu, dalam kondisi saat ini, sebagian wali murid lebih mudah merasa keberatan terhadap teguran yang diberikan, terutama ketika tujuan teguran tersebut belum dipahami secara menyeluruh.


Guru di Tengah Tekanan Hukum dan Ketakutan Menegur


Aturan yang melarang kekerasan fisik maupun verbal di lingkungan pendidikan tentu merupakan langkah penting untuk melindungi hak anak. Namun, dalam praktiknya, batas antara ketegasan dan kekerasan sering kali menjadi kabur. Teguran yang bersifat mendidik tidak jarang disalahartikan sebagai tindakan yang melampaui batas.


Kondisi ini membuat banyak guru merasa tertekan dan takut mengambil tindakan. Kekhawatiran akan dilaporkan atau disalahkan oleh wali murid menyebabkan guru memilih bersikap pasif. Akibatnya, ruang kelas kehilangan ketegasan, dan proses pembentukan karakter anak didik menjadi kurang optimal.


Dampak bagi Pendidikan Karakter dan Tanggung Jawab Bersama


Ketika guru enggan menegur anak didik karena kekhawatiran tertentu, proses pendidikan berisiko kehilangan batasan yang jelas. Anak didik menjadi kurang terbiasa menerima kritik, mudah mengeluh, dan cenderung melibatkan wali murid setiap kali menghadapi teguran di sekolah. Apabila kondisi ini terus berlangsung, pendidikan tidak hanya berpotensi kehilangan wibawanya, tetapi juga gagal membentuk karakter anak yang tangguh, mandiri, dan bertanggung jawab.


Perlunya Komunikasi antara Guru dan Wali Murid


Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi persoalan ini adalah pentingnya komunikasi antara guru dan wali murid. Teguran yang diberikan guru seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses mendidik anak, bukan semata-mata sebagai kesalahan. Melalui komunikasi yang baik, wali murid dapat memahami tujuan teguran tersebut, sementara guru pun dapat mempunyai ruang untuk menyampaikan pendekatan yang digunakan. Dengan komunikasi yang terjaga, kesalahpahaman dapat dihindari dan pendidikan anak dapat berjalan lebih selaras antara sekolah, keluarga dan masyarakat.


Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab antara guru dan wali murid. Wali murid diharapkan dapat menyikapi teguran guru dengan lebih bijak, sementara guru tetap menjalankan perannya dengan sikap tegas, manusiawi, dan sesuai aturan. Kerja sama yang baik antara sekolah, keluarga dan masyarakat menjadi kunci agar pendidikan karakter dapat berjalan secara seimbang, tanpa rasa takut dan tanpa kekerasan.



Penulis :
Sinta Devi Prastika Putri, S.Pd.
sintadeviprastika@gmail.com

Sekarang jadi Makin Tahu Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update