Adab yang Meredup: Mampukah Bahasa Krama Bertahan di Era Digital? -->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Adab yang Meredup: Mampukah Bahasa Krama Bertahan di Era Digital?

Sabtu, 15 November 2025 | November 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-15T06:49:13Z

 

Foto: Ilustrasi 

Ngawimadang.com - Kemajuan teknologi memengaruhi pola komunikasi siswa sehingga penggunaan bahasa Jawa krama semakin menurun. Tulisan opini ini membahas pentingnya pendidikan di era modern, di mana seharusnya selain mentransfer informasi tetapi juga mempertahankan adat dan budaya lokal. Perubahan sosial, peran keluarga yang lebih lemah, dan pembelajaran muatan lokal yang kurang efektif digunakan untuk menganalisis fenomena hilangnya unggah-ungguh berbahasa Jawa pada siswa SD. Untuk memperkuat karakter kesantunan berbahasa, tulisan ini menawarkan ide baru tentang pembelajaran kontekstual, media digital berbasis budaya, dan evaluasi autentik.


Perkembangan teknologi digital saat ini membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara anak dalam berkomunikasi. Siswa sekolah dasar tumbuh dalam lingkungan yang serba instan, cepat, dan tidak banyak hierarki sosial. Bahasa digital dan gaul mulai menggantikan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Salah satu efek yang paling terasa adalah pengurangan penggunaan unggah-ungguh berbahasa Jawa, terutama ragam krama, dalam interaksi siswa. Namun, bahasa Jawa krama menunjukkan nilai kesantunan, penghormatan, dan tata krama yang menjadi identitas budaya masyarakat Jawa. Ini lebih dari sekadar sistem linguistik, Sutopo (2021). Fenomena ini menunjukkan bahwa ada masalah besar di dunia pendidikan, terutama dalam mempertahankan identitas dan budaya lokal di tengah modernisasi yang cepat.


Makna Pendidikan dalam Konteks Budaya


Pendidikan pada dasarnya adalah proses pembudayaan, bukan hanya kemampuan akademik. Tujuan pendidikan, menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, adalah untuk menghasilkan individu yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, dan berbudaya. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip lokal yang ada di masyarakat. Agar siswa tidak tercerabut dari akar identitasnya, menurut Tilaar (2020), pembelajaran harus menyertakan nilai sosial dan budaya. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa aspek karakter berbasis budaya lokal mulai menghilang, sementara pembelajaran kognitif semakin dominan di sekolah. Makna pendidikan dalam bahasa Jawa, terutama ragam krama, seharusnya mencakup penerimaan prinsip-prinsip unggah-ungguh yang membantu menumbuhkan sikap hormat dan santun saat berbicara. Namun, karena perubahan dalam gaya hidup kontemporer, siswa sekarang lebih terbiasa berkomunikasi secara langsung dan informal. Akibatnya, kesantunan berbahasa tidak lagi dianggap sebagai keharusan.


Fenomena Menurunnya Unggah-Ungguh Berbahasa Jawa pada Siswa SD


Siswa tidak hanya berhenti menggunakan bahasa Jawa krama. Budaya digital saat ini mengutamakan kemudahan dan kecepatan daripada kesopanan. Pola komunikasi baru diciptakan oleh media sosial dan gim online, yang cenderung singkat, menarik, dan tidak memiliki tingkat tutur. Keluarga semakin jarang menggunakan bahasa krama, sehingga anak tidak memiliki model bahasa yang dapat dicontoh. Seringkali, pendidikan bahasa Jawa di sekolah hanya berfokus pada teori, seperti pemahaman kosa kata atau tingkat tutur, tetapi tidak mengajari siswa bagaimana berkomunikasi secara nyata. Akibatnya, siswa menghadapi kesulitan untuk mengetahui kapan menggunakan ragam ngoko, madya, atau krama. Salah satu penyebab utama penurunan kemampuan unggah-ungguh generasi muda adalah kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam keluarga dan lingkungan sekolah, menurut penelitian Retnowati (2022). Fenomena ini tidak hanya menyebabkan penurunan kemampuan linguistik tetapi juga menyebabkan hilangnya nilai sosial dalam komunikasi interpersonal.


Solusi Pembelajaran Berbasis Budaya


Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah harus disesuaikan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan bermakna untuk mengatasi masalah ini. Guru dapat menggunakan Contextual Teaching and Learning (CTL), yang menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata, seperti berbicara dengan guru, menyapa orang tua, atau sopan meminta izin. Metode role play dapat membantu siswa belajar menggunakan krama secara efektif dengan bermain peran dalam berbagai situasi komunikasi. Media digital berbasis budaya juga harus diperkuat. Komik edukatif berbahasa Jawa krama, video pendek, atau animasi dapat menarik minat siswa dan membuat pelajaran lebih relevan dengan kehidupan nyata. Meskipun kurikulum merdeka memungkinkan ide-ide baru, inovasi guru adalah kunci keberhasilan. Selain itu, evaluasi pembelajaran harus menggunakan penilaian asli, seperti pengamatan praktik berbahasa dalam interaksi sehari-hari daripada ujian tertulis. Oleh karena itu, belajar bahasa Jawa tidak hanya memberi siswa lebih banyak pengetahuan, tetapi juga membantu mereka membentuk kepribadian dan sensitivitas budaya mereka.


Tidak adanya unggah-ungguh berbahasa Jawa di kalangan siswa SD menunjukkan tantangan besar dalam mempertahankan identitas budaya di tengah arus digitalisasi yang cepat. Untuk menghidupkan kembali nilai kesantunan, penghormatan, dan moralitas yang terkandung dalam bahasa Jawa krama, pendidikan sangat penting. Sekolah dapat menjadi ruang untuk melestarikan nilai unggah-ungguh dengan menerapkan pembelajaran berbasis budaya, metodologi kontekstual, media digital yang menarik, dan evaluasi autentik. Tulisan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan hanya melalui kurikulum; kreativitas guru, pembiasaan di lingkungan keluarga, dan dukungan masyarakat semua diperlukan.

 

Penulis:

Sinta Devi Prastika Putri, S.Pd.

Mahasiswa Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang

(Guru SDN Dumplengan 2)


Sehingga jadi Makin Tahu Indonesia.

×
Berita Terbaru Update