Batik Pringgondani Karya Siti Asiyah, Merangkai Kisah Alam dan Sejarah Ngawi dalam Lembaran Batik -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Batik Pringgondani Karya Siti Asiyah, Merangkai Kisah Alam dan Sejarah Ngawi dalam Lembaran Batik

Minggu, 25 Oktober 2026 | Oktober 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-25T01:51:54Z


Batik Pringgondani karya Siti Asiyah.

Ngawi, Ngawimadang.com – Kekayaan alam, sejarah, dan identitas budaya lokal Kabupaten Ngawi menjadi sumber inspirasi bagi Siti Asiyah dalam mengembangkan Batik Pringgondani. Melalui karya batiknya, ia berupaya mengangkat potensi daerah menjadi motif bernilai seni sekaligus sarana untuk memperkenalkan warisan lokal kepada masyarakat luas.


Berlokasi di Dusun Mojo 2 RT 02 RW 02, Desa Mojo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Batik Pringgondani menghadirkan motif yang tidak hanya mengutamakan keindahan visual, tetapi juga menyimpan cerita tentang karakteristik dan kekayaan wilayah Ngawi.


Setiap motif dirancang dengan mengangkat unsur-unsur yang memiliki keterkaitan dengan lingkungan alam maupun identitas daerah. Pendekatan tersebut menjadikan batik sebagai media untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan potensi lokal.


Mengangkat Kekayaan Alam dan Sejarah Ngawi



Salah satu motif yang dikembangkan Batik Pringgondani adalah Gading Cengkeh. Motif ini terinspirasi dari kekayaan cengkeh di kawasan lereng Gunung Lawu bagian selatan serta temuan fosil di kawasan Pegunungan Kendeng bagian utara.


Unsur tersebut dipadukan dengan ornamen daun bambu dan truntum sehingga membentuk komposisi motif yang merepresentasikan perpaduan potensi alam dan kekayaan wilayah Kabupaten Ngawi.



Melalui motif Gading Cengkeh, Siti Asiyah menghadirkan gambaran tentang keberagaman karakter wilayah Ngawi, mulai dari potensi alam hingga jejak sejarah yang menjadi bagian dari identitas daerah.


Selain itu, terdapat motif Gading Kartonyono yang mengangkat ikon gading gajah purba di perempatan Kartonyono. Ikon tersebut menjadi salah satu penanda khas Kabupaten Ngawi yang dikenal masyarakat.


Motif Gading Kartonyono merepresentasikan kecintaan terhadap sejarah dan identitas daerah. Penggunaan ikon lokal dalam karya batik juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan karakter Ngawi melalui produk budaya yang dapat dinikmati dalam berbagai kesempatan.


Batik sebagai Media Pelestarian Budaya Lokal


Bagi Batik Pringgondani, pengembangan motif berbasis potensi daerah menjadi upaya untuk mempertemukan nilai seni dengan kearifan lokal. Kekayaan alam dan sejarah tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga diterjemahkan ke dalam karya yang memiliki identitas khas.


Melalui setiap goresan motifnya, Batik Pringgondani berupaya menghadirkan lebih dari sekadar kain bermotif. Di dalamnya terdapat cerita mengenai lingkungan, sejarah, dan kebanggaan terhadap Kabupaten Ngawi.


Kehadiran karya Siti Asiyah turut memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai budaya. Batik menjadi salah satu medium untuk menjaga agar cerita dan identitas daerah tetap dikenal, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kreativitas berbasis kearifan lokal.


Dengan mengangkat unsur-unsur khas Ngawi ke dalam setiap motif, Batik Pringgondani diharapkan dapat semakin memperluas pengenalan budaya daerah kepada masyarakat, baik di tingkat lokal maupun lebih luas.


Batik Pringgondani karya Siti Asiyah menjadi salah satu wujud kreativitas lokal yang merangkai keindahan, sejarah, dan identitas Ngawi dalam selembar kain, sekaligus membawa cerita daerah agar terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Alamat Batik Pringgondani:

Dusun Mojo 2 RT 02 RW 02, Desa Mojo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.



Penulis: Ilham Wibowo

Editor: Tim Ngawimadang.com


Sekarang jadi Makin Tahu Indonesia.

×
Berita Terbaru Update